Xabi Alonso kembali ke Santiago Bernabeu musim panas lalu sebagai pelatih Real Madrid dengan ekspektasi tinggi. Dibawah ini akan ada penjelasan tentang berita bola menarik lainnya di FOOTBALL REVIEW.

Ia ditugaskan memimpin era baru Los Blancos, tetapi kenyataan di lapangan jauh lebih menantang. Kekalahan beruntun dari Celta Vigo dan Manchester City membuat spekulasi tentang masa depannya semakin kuat, meski tim sempat menang 2-1 atas Deportivo Alaves.
Fernando Carro, CEO Bayer Leverkusen yang pernah bekerja dengan Alonso, menilai tekanan yang dialami sang pelatih bukan akibat kemampuan taktiknya. Carro menekankan perbedaan budaya antara Leverkusen dan Madrid. Di Jerman, Alonso menikmati dukungan penuh dari klub, sedangkan di ibu kota Spanyol ia dianggap “sendirian” menghadapi kritik dan politik internal klub.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Situasi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan seorang pelatih tidak hanya bergantung pada kualitas teknis, tetapi juga pada lingkungan yang mendukung. Alonso, menurut Carro, menghadapi realitas yang keras di Bernabeu, berbeda jauh dari atmosfer kolaboratif yang ia nikmati di Leverkusen selama tiga tahun terakhir.
Kritik Terbuka dari Fernando Carro
Carro tidak segan mengkritik Florentino Perez dan hierarki Real Madrid atas perlakuan terhadap Alonso. Ia menilai presiden Madrid dan manajemen klub membiarkan pelatih menghadapi tekanan besar tanpa perlindungan. “Jika presiden mengatakan bahwa pelatih adalah sesuatu yang harus ada, dan pelatih selalu menerima kritik sendirian, situasinya sangat berbeda dari yang ia alami di Leverkusen,” ujar Carro.
Di Leverkusen, Alonso bekerja dalam lingkungan di mana seluruh struktur klub bergerak searah. Setiap keputusan dan strategi tim didukung bersama, sementara di Madrid Alonso dianggap harus menghadapi segala kritik sendiri. Carro menekankan bahwa isolasi ini berdampak pada performa dan moral sang pelatih, bukan semata-mata hasil buruk di lapangan.
Kritik Carro menjadi peringatan bagi para penggemar dan media yang menuntut pemecatan Alonso. Ia menegaskan bahwa masalah bukan pada kualitas Alonso, melainkan konteks kerja yang berbeda dan tekanan politik internal di Bernabeu.
Read Also: Gol Spesial Jordan Henderson Bersama Brentford untuk Mengenang Diogo Jota
Hubungan Pribadi yang Tetap Erat

Meski Alonso menghadapi kesulitan di Madrid, hubungan pribadinya dengan Carro tetap kuat. Selama tiga tahun di Leverkusen, keduanya membangun ikatan dekat yang melampaui profesionalitas. Carro bahkan mengunjungi Alonso di Madrid, menegaskan bahwa mereka tetap menjaga komunikasi dan saling menghargai.
Carro menyebut keluarga Alonso juga dekat dengan stafnya di Jerman, menunjukkan kedekatan emosional yang jarang terjadi di dunia sepakbola. Hubungan ini menjadi bukti bahwa Alonso memiliki jaringan dukungan yang solid, meskipun ia merasa terisolasi di lingkungan barunya di Spanyol.
Kedekatan tersebut membuat Carro lebih vokal membela Alonso dan mengkritik situasi di Bernabeu. Ia menekankan bahwa seorang pelatih membutuhkan dukungan penuh dari klub, bukan sekadar mengandalkan kemampuan individu untuk menghadapi tekanan media dan politik internal.
Tekanan Tinggi dan Tantangan Bernabeu
Tekanan di Real Madrid tidak mudah. Alonso memulai musim dengan performa impresif 13 kemenangan dari 14 pertandingan pertama, termasuk kemenangan atas Barcelona. Namun, kekalahan dari Liverpool memicu rentetan hasil buruk yang membuat posisi mereka terancam di La Liga dan Liga Champions.
Perbandingan dengan Leverkusen menegaskan bahwa lingkungan klub memengaruhi performa. Di Jerman, Alonso meraih kesuksesan ganda domestik tanpa tekanan berlebihan. Sementara di Madrid, ia harus menghadapi ekspektasi tinggi dan kritik tajam, yang menimbulkan risiko pemecatan lebih cepat.
Rumor pemecatan yang beredar semakin memperkuat narasi bahwa Alonso dibiarkan sendirian menghadapi masalah struktural klub. Kritik Carro menjadi sorotan, menunjukkan bahwa kesulitan Alonso bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga sistem dan budaya di Real Madrid yang berbeda jauh dari yang ia kenal sebelumnya. Manfaatkan waktu luang Anda untuk mengeksplor berita bola menarik lainnya di footballreview.net.
